DINA NURMALISA SABRAWI BAKAL BIKIN TEGAL SEMANGAT DENGAN BACA PUISI TEGALAN

Tiga anggota DPRD dan dua Wakil Walikota Tegal, Rabu, 30 Agustus 2017 mulai pukul 19.30 mendatang, siap bertarung “Baca Puisi Tegalan” (puisi dalam bahasa Tegal). Peristiwa yang sangat langka ini bakal digelar di acara “Gemladag Pitulasan” bertempat di Rumah Dinas Wakil Walikota Tegal.


Menurut Ketua Penyelenggara, Lanang Setiawan, ketiga anggauta dewan Kota Tegal adalah Sisdiono Ahmad dari Partai Gerindra, Untung Purwadi dari PKS, dan Yusuf Al Baihaqi dari PKB. Mereka bakal unjuk gigi.


“Pementasan dalam rangka HUT RI Ke-72 ini bakal menjadi tontonan menarik dan seru. Masing-masing akan unjuk gigi dengan puisi mereka yang tidak kalah seru. Sama halnya serunya pertarungan baca puisi antara Wakil Walikota Tegal dengan mantan Wakil Walikota Tegal Pertama Maufur,” ujar Lanang Setiawan yang juga seorang novelis dan pencipta lagu tegalan.

Kata Lanang, Wakil Walikota Tegal Nursholeh yang biasa disapa Kang Nur akan membacakan puisi karya sendiri berjudul "Bareng Kang Nur Mbangun Tegal”. Sedang mantan Wakil Walikota Tegal Pertama Maufur membacakan puisi karyanya berjudul “Nasehat”.
Puisi Nursholeh bercerita ajakan kepada masyarakat Tegal untuk bersama membangun Kota Tegal agar dapat ditata lebih maju. //Holupis kuntul baris, holupis kuntul baris/bareng Kang Nur rawé-rawé rantas/malang-malang tuntas/anteb énténg dipikul bareng-bareng/remojongan//. Dalam bahasa nasionalnya, teks puisi tersebut artinya://Holupis kuntul baris, holupis kuntul baris/bersama Kang Nur mari membangun/dengan bersungguh-sungguh/ringan sama dijinjing berat sama dipikul/bersama-sama//.

Sementara itu, puisi tegalan karya Maufur bercetita tetang nasehat kepada seseorang yang tengah menjabat.//Kang, Nabi ora kongkon nyong kowen sugih banda/ben yén pan mlebu sorga ora nganti ketunda/tapiné Nabi ngongkon nyong kowen iman/bén urip saiki karo engkoné aman//. Jika diterjemakan dalam bahasa nasional, penggalan puisi tersebut bermakn://Mas, Nabi sama sekali tidak menyuruh kita bergelimpang harta benda/biar kita nasuk surga nanti tidak tertunda/akan tetapi Nabi menyuruh kita buat beriman/biar hidup kita nanti selamat//.

Sementara untuk ketiga anggauta Dewan Kota Tegal itu, masing-masing menulis puisi dengan thema kritik sosial. Untuk Yusuf Al Baihaqi menulis puisi berjudul  'Jaré Sapa”, “Kata Siapa”. Lewat puisinya, Yusuf mempertanyakan bahwa menjadi bejabat siapa bilang enak? //Jaré sapa dadi penjabat kuwé kepenak/nyatané akéh pejabat sing ketangkep OTT/akhiré omah sing magrong-magrong malah ditinggal/déwéké manggon neng lawang ireng//. Penggalan teks puisi ini jika diterjemakan dalam bahasa Indonesia seperti ini://Kata siapa jadi pejabat itu enak/nyatanya banyak yang tertangkap OTT/akhirnya rumah yang megah bahkan ditinggal pergi/ia masuk penjara//.

Lebih lanjut Lanang Setiawan mengatakan, mengenai puisi yang ditulis Sisdiono Ahmad menuangkan tentang kondisi Kota Tegal yang sebentar lagi menghadapi Pemilihan Walikota. Dalam puisnya, Sisdiono menulis: /Enyong mikiraken Tegal/pimén milih walikota sing ngayemi lan ngayani/gudu walikota sing lédha-lédhé/mélok-mélok kaya otok owok//. Artinya kira-kira://Aku memikirkan Tegal/bagaimana memilih walikota bisa bikin tentram dan mensejahterakan/bukan walikota yang memikirkan diri sendiri/menor-menor seperti tidak pandai bersolek//.
“Sedang puisi yang ditulis Untung Purwadi berjudul “Ndonga” atau Berdoa. Dalam puisinya, ia merasa banyak berterima kasih pada leluhur yang telah membangun Kota Tegal,” katanya.

Ditambahkan, selain kelima pembaca puisi tersebut ada 11 orang yang akan tampil. Mereka adalah, Khaerul Huda (Pejabat Nonjob) menulis sajaknya berjudul “Angger” (Kalau), Tambari Gustam (Seniman, pengusaha dan Ketua LSM Cordova) menulis sajak berjudul "Cantrang Lan Témbok” (Cantrang Dan Dinding), Zaenal Abidin MK (Pengembang Perumahan) akan membawakan puisi terjemahan karya Chairil Anwar “Krawang Bekasi”, Asmawi Aziz (Politikus dan kontraktor) menulis puisi berjudul “Maju Karo Sapa”_(Maju dengan Siapa), Amirrudin (Ketua Partai) menulis puisi berjudul “Tegal Laka-laka” (Tegal Tiada Tara), Atmo Tan Sidik (Ketua BNN Kabupaten Brebes) menuangkan puisi berjudul “Mung Salah Ketik”  (Cuma Salah Ketik), Yayat Hidayat Amir (dosen) menulis sajaknya berjudul  “Makna Paceklik”_(Definisi Kemerosotan Moral), Eri Sudjono (Ketua LSM menulis “Karepé Apa” (Maunya Apa), Tatang Suandi menulis /“Goroh Gedéan” (Ingkar Janji), AKBP Semmy Ronny Thabaa (Kapolres Tegal Kota) menulis sajanya berjudul “Polisi Jakwiré Déwék” (Polisi Temannya Sendiri), dan bintang tamu dari Pekalongan adalah Dina Nurmalisa Sabrawi (Dosen Sastra di Univesitas Pekalongan) akan membacakan puisi karya Maufur.
 
“Dari 16 pembaca puisi pada malam itu, yang paling ditunggu-tunggu adalah penampilan Kapolres Tegal Kota yakni AKBP Semmy Ronny Thabaa. Ini merupakan satu kehormatan bagi kita senyampang dia orang Papua. Akan tetapi ia mau tampil membacakan puisi dalam bahasa Tegal. Ini keren banget. Bagaimana nanti Pak Kapolres membawakannya. Kami tidak sabar ingin melihat penampilannya,” kata Lanang.
Lebih jauh Lanang Setiawan menambahkan, tidak kalah menarik adalah kehadiran Dina Nurmalisa Sabrawi. Dina Nurmalisa, kata Lanang, adalah mahasiswa S3 Ilmu Susastra Universitas Indonesia yang sedang melakukan peneliti puisi tegalan untuk disertasi doktornya. “Ini menarik. Menurut Dina, dirinya melakukan penelitian dan memilih Sastra Tegalan khususnya puisi sebagai bahan penelitiannya, karena katanya, puisi tegalan itu layaknya laki-laki tampan yang memikat untuk dijadikan kekasih. “Saya amat jatuh cinta sejak dikenalkan dosen pembimbing saya Pak Sunu Wasono dari UI dengan puisi tegalan untuk pertama kali,” kata Dina berapologi.
Pada malam itu, selain pembacaan puisi yang bertemakan _"Ngademna Kota Tegal”_, akan dimeriahkan pula penampilan grup musik bernuansa tujuh belasan. (Apriyanti Banon Satriya)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DINA NURMALISA SABRAWI BAKAL BIKIN TEGAL SEMANGAT DENGAN BACA PUISI TEGALAN"

Posting Komentar